Dua puluh tahun
kemudian, Bramana Raja menyiksa lalu
memperkosa seorang waria bernama Senja, yang dituduh mencuri dompetnya saat berkemah di dalam
hutan di pedalaman Dieng. Takut aksi bejatnya dilaporkan polisi, Bramana lalu
melempar tubuh Senja ke sungai dan setelah itu ia kabur ke Jakarta.
Setahun
kemudian, Aditya Raja yang kariernya sedang melejit sebagai pengacara, harus
menelan pil pahit karena membongkar perselingkuhan istrinya sendiri. Depresi
dan patah hati, Aditya lalu menyepi untuk menenangkan diri di daerah Dieng. Di
sana takdir mempertemukannya dengan Senja. Setelah banyak kisah yang dilalui
bersama, keduanya akhirnya jatuh cinta meski cintanya terlarang.
Senja
tak pernah tahu jika Aditya adalah kakak kembar Bramana, pria yang pernah
memperkosanya dan membuangnya ke sungai. Ia baru tahu jika keduanya bersaudara
saat Senja menghadiri pesta pernikahan Bramana dengan Marina. Tanpa berpikir
panjang, Senja menembak Bramana dengan brutal hingga pria itu tewas di altar
gereja.
Hukum
bicara. Aditya dihadapkan pada dilema dimana ia harus menuntut Senja hukuman
mati karena telah membunuh adik kembarnya, Bramana. Namun disisi lain, Senja
adalah kekasihnya meskipun dunia tak mengetahuinya. Sampai akhirnya pengadilan
menetapkan hukuman mati pada Senja, dan Aditya yang hampir gila melarikannya
(kabur) dari penjara.
Pelarian
Senja dan Aditya berakhir ketika polisi menemukan lokasi persembunyian mereka.
Senja tewas tertembak lantaran menjadi tameng ketika polisi berniat menembak
Aditya. Tak mau ditinggal mati kekasihnya, Aditya lalu bunuh diri.
Setelah
itu tabir masa lalu terbuka. Senja adalah anak laki-laki dari pasangan suami
istri yang tewas tertabrak mobil keluarga Oesman. Dosa masa lalu itu bagaikan
karma yang terus mengejar. Garis keturunan keluarga Oesman Raja berhenti,
karena kini kedua anaknya sudah tewas. Tak ada lagi yang tersisa selain
penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar