Jumat, 02 Januari 2015



TUGAS KELOMPOK
MEMBUAT RESENSI SEBUAH NOVEL ANGKATAN ‘66

KELOMPOK 10 :
-          EVNI OCTAVIANI
-          MAESYAROH
-          MAYMUNAH
-          MUHAMAD LUTHFI

BILAMALAM BERTAMBAH MALAM

JUDUL                       : BILA MALAM BERTAMBAH MALAM
KARYA                     : PUTU WIJAYA
TEMA                         : CINTA DAN KEANGKUHAN MANUSIA
TOKOH                      :
-          GUSTI BIANG (Pemarah, egois, sombong)
-          WAYAN (Baik hati, setia, lucu)
-          NYOMAN (Baik hati, sabar, setia)
-          RATU NGURAH (baik, bijaksana, rendah hati, setia)
TAHUN TERBIT       : 1970
ISBN   : 9794191698

LEPASNYA TOPENG KEMUNAFIKAN – NOVEL BILA MALAM BERTAMBAH MALAM
KARYA PUTU WIJAYA

SINOPSIS      :
Di Tabanan Bali, Gusti Biang adalah janda almarhum I Gusti Rai seorang bangsawan yang dulu sangat dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Gusti Biang hanya tinggal bersama dengan Wayan, seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I Gusti Ngurah Rai dan Nyoman Niti seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18 tahun tinggal di puri itu. Sementara putra semata wayangnya Ratu Ngurah telah lima tahun meninggalkannya karena ia sedang menuntut ilmu di jawa. Sikap Gusti Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia berdasarkan kasta, membuat ia sombong dan memandang rendah orang lain. Nyoman Niti yang selalu setia melayani Gusti Biang, harus rela menelan pil pahit akibat sikap Gusti Biang yang menginjak-injak harga dirinya. Telah lama Nyoman Niti ingin meninggalkan puri itu karena ia sudah tidak sanggup menahan radang kemarahan terhadap Gusti Biang. Namun Nyoman selalu urung manakala Wayan yang selalu baik dan menghiburnya membujuknya untuk bersabar dan tetap setia menjaga Gusti Biang demi cintanya pada Ratu Ngurah. Nyoman Niti tak kuasa lagi menahan emosi yang bertahun-tahun ia pendam manakala Gusti Biang benar-banar menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan meracuninya dengan obat-obatan yang Nyoman berikan. Bahkan Gusti Biang tidak segan-segan memukul Nyoman dengan tongkat gadingnya. Menimpa ia dan Gusti Biang terulang lagi. Wayan juga Akhirnya Nyoman Niti pun bergegas meninggalkan puri itu. Wayan pun tak mampu menahan kepergiannya. Tapi alangkah terkejutnya Nyoman ketika Gusti Biang membacakan biaya yang dikeluarkannya membiayai Nyoman selama kurang lebih 18 tahun. Nyoman tidak menyangka Gusti Biang setega itu akhirnya Nyoman pergi dengan berurai air mata dalam suasana malam yang sunyi. Wayan pun menyuruh Ngurah pergi mengejar cintanya yaitu Nyoman Niti. Wayan tidak ingin kejadian yang menasehati Gusti Biang agar merestui hubungan putranya dengan Nyoman. Ia juga mengingatkan cinta yang tak sampai antara dirinya dan Gusti Biang hanya perbedaan kasta yang membuat keduanya begitu menderita akhirnya Gusti Biang yang bernama asli Sagung Mirah merestui hubungan Ratu Ngurah dan Nyoman.
Penedekatan Sosiologi Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan (wiyatmi, 2003). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur masyarakat. Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat. Selain itu beberapa pendekatan lain guna mendukung adalah Pendekatan psikologi sastra. Dalam penciptaan karya sastra  memang kadang-kadang ada teori psikologi tentu yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar, dan teori tersebut ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi cerita (Wellek & Warren, 1990). Sehingga sangat dimunginkan kita menemukan pesan moral yang sangat jelas dengan menilai bagaimana tokoh dalam mengahadapi situasi yang ada.
Dalam keadaan sekarang topeng kemunafikan memang sudah banyak dipakai, baik di berbagai kalangan. Lebih disayangkan lagi jika dalam novel ini dibahas kemunafikan dalam rumah tangga Gusti Biang, namun dalam ralitasnya topeng kemunafikan dipakai oleh kalangan dan sebagian orang yang diatas namakan kepentingan rakyat. Dalam novel ini di ketahui bahwa kemunafikan Gusti Biang yang tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya karena Wayan hanyalah seorang pembantu I Gusti Ngurah Ketut. Dan bagaimana tersiksanya batin kedua tokoh yaitu Gusti Biang dan Wayan yang sama-sama memendam perasaannya. Selebihya adalah bagaimana Gusti Biang menutupi kebohongan I Gusti Ngurah Ketut yang selama ini adalah mata-mata Nica dari anaknya sendiri Ngurah.
Dalam novel ini dapat dilihat bagaimana seorang Putu Wijaya mengkonstrusi dan membuat sebuah alur cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam novel dan klimaks tersebut. Jika kita melihat dalam kenyataan yang nyata, topeng-topeng ini sering dipakai demi menutupi kebohongan-kebohongan yang dilakukan. Tidak hanya dalam rumah tangga, namun dalam berbagai bidang dan yang paring sering adalah dalam masalah percintaan. Dimana seorang memanfaatkan berbagai situasi yang ada untuk sebuah kepentingan yang menguntungkan bagi sebagian pihak.
Putu Wijaya juga sukses membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Dalam novel ini juga dapat diambil beberapa pesan moral, yaitu “Setiap orang harus menghargai satu sama lain tanpa memedakan kasta atau derajat” dan “Dalam sebuah kejujuran memang sangatlah sulit untuk membuat situasi menjadi biasa.” Terkadang kejujuran itu membutuhkan sebuah situasi yang jujur dan mampu menanggung segala resiko dengan baik dari segala perbuatan, sehingga topeng kemunafikan itu pun dapat disingkirkan.

Sumber            :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar