TUGAS
KELOMPOK
MEMBUAT
RESENSI SEBUAH NOVEL ANGKATAN ‘66
KELOMPOK 10 :
-
EVNI OCTAVIANI
-
MAESYAROH
-
MAYMUNAH
-
MUHAMAD LUTHFI
BILAMALAM
BERTAMBAH MALAM

JUDUL : BILA MALAM BERTAMBAH
MALAM
KARYA : PUTU WIJAYA
TEMA : CINTA DAN KEANGKUHAN
MANUSIA
TOKOH :
-
GUSTI BIANG (Pemarah, egois, sombong)
-
WAYAN (Baik hati, setia, lucu)
-
NYOMAN (Baik hati, sabar, setia)
-
RATU NGURAH (baik, bijaksana, rendah
hati, setia)
TAHUN TERBIT : 1970
ISBN : 9794191698
LEPASNYA
TOPENG KEMUNAFIKAN – NOVEL BILA MALAM BERTAMBAH MALAM
KARYA
PUTU WIJAYA
SINOPSIS :
Di Tabanan Bali, Gusti
Biang adalah janda almarhum I Gusti Rai seorang bangsawan yang dulu sangat
dihormati karena dianggap pahlawan kemerdekaan. Gusti Biang hanya tinggal
bersama dengan Wayan, seorang lelaki tua yang merupakan kawan seperjuangan I
Gusti Ngurah Rai dan Nyoman Niti seorang gadis desa yang selama kurang lebih 18
tahun tinggal di puri itu. Sementara putra semata wayangnya Ratu Ngurah telah
lima tahun meninggalkannya karena ia sedang menuntut ilmu di jawa. Sikap Gusti
Biang yang masih ingin mempertahankan tatanan lama yang menjerat manusia
berdasarkan kasta, membuat ia sombong dan memandang rendah orang lain. Nyoman
Niti yang selalu setia melayani Gusti Biang, harus rela menelan pil pahit
akibat sikap Gusti Biang yang menginjak-injak harga dirinya. Telah lama Nyoman
Niti ingin meninggalkan puri itu karena ia sudah tidak sanggup menahan radang
kemarahan terhadap Gusti Biang. Namun Nyoman selalu urung manakala Wayan yang
selalu baik dan menghiburnya membujuknya untuk bersabar dan tetap setia menjaga
Gusti Biang demi cintanya pada Ratu Ngurah. Nyoman Niti tak kuasa lagi menahan
emosi yang bertahun-tahun ia pendam manakala Gusti Biang benar-banar
menindasnya. Gusti Biang menuduh Nyoman akan meracuninya dengan obat-obatan yang
Nyoman berikan. Bahkan Gusti Biang tidak segan-segan memukul Nyoman dengan
tongkat gadingnya. Menimpa ia dan Gusti Biang terulang lagi. Wayan juga
Akhirnya Nyoman Niti pun bergegas meninggalkan puri itu. Wayan pun tak mampu
menahan kepergiannya. Tapi alangkah terkejutnya Nyoman ketika Gusti Biang
membacakan biaya yang dikeluarkannya membiayai Nyoman selama kurang lebih 18
tahun. Nyoman tidak menyangka Gusti Biang setega itu akhirnya Nyoman pergi
dengan berurai air mata dalam suasana malam yang sunyi. Wayan pun menyuruh
Ngurah pergi mengejar cintanya yaitu Nyoman Niti. Wayan tidak ingin kejadian
yang menasehati Gusti Biang agar merestui hubungan putranya dengan Nyoman. Ia
juga mengingatkan cinta yang tak sampai antara dirinya dan Gusti Biang hanya
perbedaan kasta yang membuat keduanya begitu menderita akhirnya Gusti Biang
yang bernama asli Sagung Mirah merestui hubungan Ratu Ngurah dan Nyoman.
Penedekatan Sosiologi
Sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang memahami karya
sastra dalam hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan
(wiyatmi, 2003). Dalam karya sastra tidak dapat kita pisahkan dengan kehidupan
masyarakat yang ada, pada dasarnya penulis adalah bagian dari sebuah struktur
masyarakat. Dalam sebuah karya sastra memang mempunyai tujuan, dan berbagai
macam tujuan itu pasti ada sebuah realitas yang menjadi dasar ekspresi
pengarang menciptakan sebuah karya sastra, sehingga karya sastra tidak akan
jauh antara sastrawan, karya sastra dan masyarakat. Selain itu beberapa
pendekatan lain guna mendukung adalah Pendekatan psikologi sastra. Dalam
penciptaan karya sastra memang kadang-kadang ada teori psikologi tentu
yang dianut pengarang secara sadar atau samar-samar, dan teori tersebut
ternyata cocok untuk menjelaskan tokoh-tokoh dan situasi cerita (Wellek &
Warren, 1990). Sehingga sangat dimunginkan kita menemukan pesan moral yang
sangat jelas dengan menilai bagaimana tokoh dalam mengahadapi situasi yang ada.
Dalam keadaan sekarang
topeng kemunafikan memang sudah banyak dipakai, baik di berbagai kalangan.
Lebih disayangkan lagi jika dalam novel ini dibahas kemunafikan dalam rumah
tangga Gusti Biang, namun dalam ralitasnya topeng kemunafikan dipakai oleh
kalangan dan sebagian orang yang diatas namakan kepentingan rakyat. Dalam novel
ini di ketahui bahwa kemunafikan Gusti Biang yang tidak mau mengungkapkan yang
sebenarnya karena Wayan hanyalah seorang pembantu I Gusti Ngurah Ketut. Dan
bagaimana tersiksanya batin kedua tokoh yaitu Gusti Biang dan Wayan yang
sama-sama memendam perasaannya. Selebihya adalah bagaimana Gusti Biang menutupi
kebohongan I Gusti Ngurah Ketut yang selama ini adalah mata-mata Nica dari
anaknya sendiri Ngurah.
Dalam novel ini dapat
dilihat bagaimana seorang Putu Wijaya mengkonstrusi dan membuat sebuah alur
cerita dengan rapi dan bagaimana penulis menjadikan psikologi tokoh digambarkan
secara nyata dengan dialog yang singkat namun menghidupkan suasana dalam novel
dan klimaks tersebut. Jika kita melihat dalam kenyataan yang nyata,
topeng-topeng ini sering dipakai demi menutupi kebohongan-kebohongan yang
dilakukan. Tidak hanya dalam rumah tangga, namun dalam berbagai bidang dan yang
paring sering adalah dalam masalah percintaan. Dimana seorang memanfaatkan
berbagai situasi yang ada untuk sebuah kepentingan yang menguntungkan bagi
sebagian pihak.
Putu Wijaya juga sukses
membuat bagaimana alur itu menjadi sangat hidup dengan pertikaian yang
sebenarnya sangat sederhana. Pertikaian yang muncul adalah masalah yang
kompleks dan dapat atau sering kita jumpai dalam masyarakat kita. Dalam novel
ini juga dapat diambil beberapa pesan moral, yaitu “Setiap orang harus
menghargai satu sama lain tanpa memedakan kasta atau derajat” dan “Dalam sebuah
kejujuran memang sangatlah sulit untuk membuat situasi menjadi biasa.”
Terkadang kejujuran itu membutuhkan sebuah situasi yang jujur dan mampu
menanggung segala resiko dengan baik dari segala perbuatan, sehingga topeng
kemunafikan itu pun dapat disingkirkan.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar