Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya,
cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.
Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia
jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan
lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita
isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?
Lalu, saat kau berkata, "Aku mencintaimu",
aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu
ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?
"Aku mencintaimu," katamu. Mengertikah kau
apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita
yang sama, dengan senja yang sewarna?
Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.
***
Novel ini bercerita tentang sebuah
kisah cinta jaman SMA. Sebuah kisah cinta yang dipadukan dengan persahabatan.
Moses, Adrian, Gia dan Freya. Dua pasang sahabat yang memiliki kisah cinta nya
masing-masing.
Adrian, Si tampan dan jago basket
menyukai Gia, si cantik yang hoby melukis sedangkan Moses, si pintar dan ketua
osis, menyukai Freya yang juga kutu buku. Mereka pun jadian, dan terbentuklah
persahabatan diantara mereka berempat.
Dua tahun berlalu, hubungan mereka
pun masih terjalin dengan baik, hingga disuatu ketika, perubahan-perubahan itu
terjadi. Terlebih lagi ketika mamah nya Adrian meninggal dunia, Adrian merasa
tidak ada yang bisa mengerti dirinya, kecuali Freya. Ya, kecuali Freya, karena
Freya pernah merasakan hal yang serupa.
Perasaan-Perasaan itu pun mulai
muncul, bertaburan di dalam hati Adrian. Ya, perasaan suka antara Adrian dan
Freya. Dan perasaan yang mulai hambar antara Adrian dan Gia.
Apakah cinta Adrian ke Gia mulai kadaluarsa?
Apakah cinta bisa kadaluarsa??
Gia mulai menyadari kehambaran itu,
Adrian yang mulai cuek, mulai menabur kebohongan-kebohongan kecil. Tapi Gia
tetep menghadapi Adrian dengan sabar, Gia semakin sayang dengan Adrian dan tak
ingin lepas dari Adrian. karena apa? Yak, karena Gia udah pernah tidur bareng
Adrian.. *teng tong*
Ditambah lagi, Freya yang mulai suka
dengan Adrian, namun ia berusaha untuk menyembunyikan perasaannya, memendam
rasa dan menguburnya dalam-dalam agar persahabatan mereka tidak hancur. Disisi
lain, Moses semakin sayang dengan Freya, namun ia sadar Freya selalu sulit
terbuka dengannya.
“Terkadang
aku berharap dapat membaca hati orang. Melongok ke dalam sanubari mereka.
Membaca apa yang tertulis disana. Menghirup dalam-dalam keraguan mereka,
Mengecap asa yang tidak diucapkan, dan menggali alasan disetiap debar perasaan
mereka” –moses
“Hidup itu seperti cuaca. Hari ini bisa hujan, besok
bisa cerah. Tapi kita ngga akan punya hujan selamanya atau kemarau selamanya,
kita butuh pahit dan manis secara bersamaan, Sebuah bentuk keseimbangan” –freya
Ya, begitulah kira-kira gambaran
dalam novel ini. Pahit dan manis kisah mereka dikemas secara seimbang. Walaupun
sebenernya cerita kayak gini mirip kayak cerita-cerita di FTV, terbilang kisah
cinta yang biasa. Tapi Winna mampu menuliskan alur nya menjadi kisah yang apik
dan menarik.
Gaya penulisannya yang sederhana dan
mengalir juga bikin novel ini nyaman dibaca. Konflik yang disajikan juga pas
dan gak berlebihan. Dan yang terpenting endingnya bikin penasaran.
Lalu, Bagaimana nasib hubungan mereka?
Bagaimana Nasib Gia dan Moses?
Apakah persahabatan mereka akan retak?
Apakah kisah cinta mereka berakhir bahagia??
Yap.. kira-kira endingnya tersirat dalam tulisan ini, analisis sendiri ya endingnya gimana? Hehe..
“Ada suatu saat kita dapat memilih yang terbaik. Ada
suatu saat dimana kita berbuat kesalahan, dan hidup dalam kenangan penuh
penyesalan. Tapi saat ini, aku hanya ingin mengikuti kata hati ke manapun ia
membawaku. Dan kali ini, ia membawaku menuju cinta” – Freya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar